WELCOME to St. Yoseph Rm. L. Rakidi --- Selamat Berkarya di tempar yang baru Rm. Kris

Selasa, 07 Mei 2013

KATEKISMUS SINGKAT TENTANG IMAM DIOSESAN


IMAM DIOSESAN
Siapa Mereka?


Praja (baca: projo)? Mendengar kata itu langsung deh teringat para siswa/i STPDN atau Pramuka. 

Ya.....bisa juga sih. Siswa/i STPDN memang disebut praja. Juga Pramuka singkatan dari Praja Muda Karana ya? Tapi praja yang dimaksud di sini adalah para imam yang di belakang namanya ada embel-embel “Pr” itu lho.
Oh.....begitu ya? Praja yang dimaksud adalah para imam. Kalau begitu Pr itu singkatan dari praja?

Bukan! “Pr.” bukan singkatan dari praja. Orang memang sering keliru. Pr itu singkatan dari kata presbiter (Latin) yang berarti imam. Jadi gelar Pr menunjukkan bahwa yang bersang-kutan adalah seorang imam. 


Kalau bukan singkatan dari praja, mengapa imam-imam yang bergelar Pr itu disebut imam praja. Bagaimana ceritanya sih?

Wah...., panjang deh ceritanya. Singkatnya begini: praja itu berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “wilayah” atau “negeri.” Nah istilah praja ini dipakai untuk lebih memudah-kan orang menyebut para Imam Diosesan (keuskupan).

Imam diosesan adalah imam yang bergabung (ber-inkar-dinasi) dan berkarya dalam dioses (Lat. dioces = keuskupan) tertentu. Dalam bahasa kita kata dioses berarti keuskupan atau wilayah keuskupan, padanan kata yang “agak” pas adalah kata praja itu. Maka istilah imam praja lebih kita kenal daripada imam diosesan, namun istilah yang tepat tentu saja adalah Imam Diosesan.

Imam diosesan adalah imam keuskupan, merekalah tenaga pokok / inti dari para gembala di suatu keuskupan. Imam diosesan menggabungkan atau mengikatkan diri (ber-inkar-dinasi) dengan keuskupan tertentu. Ia menyerahkan diri dan mengabdi sepenuhnya dengan keuskupannya.

Misalnya imam diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal), maka ia harus mengab-dikan diri pada uskup agung KAPal dan wilayah yang digembalakan sang uskup.

Selain “Pr” sekarang tampaknya ada inisial baru, yakni “RD” apa maksudnya?
Inisial RD biasanya ada di depan nama seorang imam diosesan. RD singkatan dari “Reverendus Dominus” (= Reverend Domine) untuk menyebut para imam praja.  Jadi walau pun maknanya benar RD bukan berarti “Romo Diosesan.” Istilah ini bukannya  baru, malahan sudah sangat “jadul” hanya saja di Indonesia terlanjur lama dipakai “Pr.” Sing-katan “Pr.” tidak umum dipakai secara internasional. Untuk negara yang berbahasa Inggris, imam dipanggil “Father” atau ditulis singkat “Fr.” Maka untuk menulis nama imam diosesan selain RD ......, bisa juga Rev. Fr. ........ Ingat, kalau sudah pakai RD di depan nama, maka tak perlu lagi menambahkan “Pr. di belakang nama.

Sementara itu untuk menyebut imam biarawan (dari ordo atau kongregasi) dipakai singkatan “RP” yang berarti Reverendus Pater.

Oke deh menjadi jelas sekarang. Dengan uraian di atas kayaknya imam diosesan itu hanya berkarya di keuskupannya sendiri ya. Dia tak bisa ke luar keuskupan, misalnya menjadi misionaris?

Ha..ha...memang banyak orang berpikir seperti itu. Benar bahwa imam diosesan bekerja demi karya penggembalaan keuskupannya. Namun semua karya dan tugas imam diosesan tergantung sepenuhnya pada uskupnya. Uskup sebagai pemimpin imam diosesan berhak menugaskan ke mana dan di mana pun imam diosesannya, karena merekalah “anak-anak” sang uskup. Maka bila uskup menghendaki, misalnya di keuskupan-nya imam diosesan sudah cukup banyak, ia bisa saja menugaskan imam diosesan untuk menjadi misionaris domestik (di keuskupan lain) atau bahkan ke luar negeri di mana suatu keuskupan masih kekurangan imam.

Baik...baik, apakah di suatu keuskupan itu imam diosesan hanya bekerja di paroki saja?
Ya nggak dong! Karya dan tugas imam tergantung dari uskupnya. Maka segala karya penggembalaan (pastoral) uskup di suatu keuskupan juga menjadi medan pelayanan imam diosesan.

Secara umum karya pastoral itu ada dua: parokial dan kategorial. Dua medan tugas ini juga menjadi medan tugas imam diosesan. Misalnya di keuskupan kita banyak komisi-komisi dan aneka lembaga serta yayasan (sekolah, universitas), nah imam diosesan harus siap juga berkarya di tempat-tempat itu bila ditugaskan oleh uskupnya. 

Kita bergeser tema sedikit ya! Apa bedanya antara imam diosesan dengan imam tarekat (kongregasi, ordo)? Bukankah imam tarekat juga bekerja di keuskupan tertentu, mengapa mereka tidak disebut sebagai imam diosesan?

Sekilas memang nggak ada bedanya ya? Dari segi imamat mereka sama-sama menerima tahbisan, lalu jenjang pendidikannya pun sama. Secara umum ada juga bedanya lho. Pertama, imam diosesan terikat dengan keuskupan tertentu. Sedangkan imam tarekat terikat dengan tarekat dan keus-kupan tempatnya berkarya.

Kedua, ketaatan imam diosesan sepenuhnya kepada uskup-nya, sedangkan ketaatan imam tarekat kepada pemimpinnya (provinsial) dan bertanggung-jawab kepada uskup di mana ia berkarya.

Ketiga, setiap imam tarekat menghidupi spritualitas yang telah digariskan oleh pendirinya. Spiritualitas imam diosesan bersumber pada Yesus dan Injil. Bagaimana ia menghi-dupinya tergantung pada masing-masing pribadi imam diosesan.

Wah...makin seru nih. Namun makin bikin bingung lho. Jelaskan lebih jelas lagi tentang spritualitas imam diosesan, please!
Oke...., namun bahasanya agak sedikit rumit ya! Secara singkat spritualitas adalah “sesuatu” yang mendasari atau menjadi semangat hidup seseorang. Spritualitas imam diosesan bersumber dari Kristus sendiri. Semangat hidup Yesus menjadi dasar hidup dan karya imam diosesan. Penghayatan spiritualitas imam diosesan diwujudkan dalam totalitasnya melayani umat di keuskupannya.

Imam diosesan hidup dan berkarya sebagai imam Gereja lokal (keuskupan), namun sebagai imam harus disadari bahwa bukan dia sendiri kini yang hidup dan berkarya, melainkan Kristuslah yang hidup dan berkarya di dalam dan melalui dirinya (bdk. Gal 2:20).

Keunikan dan kekhasan spiritualitas imam diosesan terletak pada penghayatannya, bukan pada rumusannya! Tak ada rumusan baku tentang ini.

Wah mumet juga nih. Tapi makin jelas deh sekarang. Oya banyak orang mengatakan bahwa imam diosesan itu bisa kaya karena tidak mengucapkan kaul kemiskinan. Benarkah demikian?

Benar bahwa imam diosesan tidak mengucapkan kaul. Namun bukan berarti ia tidak menghayati tiga nasihat Injil (kesucian, ketaatan dan kemiskinan). Imam diosesan di hadapan uskup dan umat sebelum ditahbiskan diakon mengucapkan janji untuk hidup selibat, taat dan suci. 

Seringkali yang teringat di pikiran orang begitu mendengar imam diosesan adalah imam yang bisa kaya. Wah....., ini salah kaprah, sueeer deh ...... nggak betul! Kalau alasannya cuma karena imam diosesan tidak mengucapkan kaul kemiskinan, itu jelas sangat salah! Bukankah banyak juga umat yang nggak kaul kemis-kinan, hidupnya kembang-kempis juga? Kalau mau kaya, ya jangan jadi imam deh...!! Mendingan jadi pengusaha saja ya!

Imam diosesan katanya tidak berkomunitas, maka persauda-raannya rapuh. Benarkah?

Memang dalam karyanya imam diosesan bisa saja hidup sendiri, tanpa rekan sesama imam diosesan (atau calon). Namun ini bukan berarti mereka hidup sendiri-sendiri. Di bawah pimpinan uskupnya, imam diosesan membentuk kolegialitas (persekutuan) dengan sesama imam lainnya. Imam diosesan membangun kebersamaan dan persaudaraan sebagai satu Umat Allah dengan uskup, antar-imam, dan umat yang digembalakannya.

Para imam diosesan memujudkan persaudaraan dan kebersamaan dalam paguyuban yang disebut UNIO (Unio Interna-sional, Unio Indonesia dan Unio di tingkat keuskupan). Sejak masih frater mereka membentuk persaudaraan yang disebut pra-UNIO, yakni persau-daraan para calon imam (frater) atas dasar keuskupannya.

Yang terakhir nih...!! Bagaimana tahap-tahap pendidikan calon imam diosesan itu? Tolong jelaskan!.

Tahap-tahap pendidikan calon imam diosesan tak berbeda dengan calon imam lainnya. Khusus untuk pendidikan bagi para calon imam diosesan (frater) di keuskupan regio Sumatera (Medan, Sibolga, Padang, Palembang,  Tanjung-karang, dan Pangkalpinang) berada di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Dalam perkuliahan mereka bergabung dengan para frater dari Ordo Kapusin (OFM Cap.) dan Ordo Conventual (OFM Conv.). Tahap-tahapnya adalah sbb:

1. Tahun Orientasi Rohani (TOR). Kalau para calon imam / biarawan/ti mengenal novisiat, maka frater diosesan mengenal TOR. Selama 1 tahun mereka dididik dan dibina dalam olah rohani, kepribadian dan pembinaan spi-ritualitas, juga sambil mempersiapkan diri memasuki masa kuliah. TOR bagi calon imam diosesan regio Sumatera adalah TOR St. Markus, Pematang Siantar.

2.  Tahun Kuliah Filsafat. Tahun kuliah ini berlangsung selama 4 tahun. Para calon imam diosesan dibekali dengan berbagai ilmu yang kelak menunjang karya pastoralnya (filsafat, teologi, kitab suci, hukum Gereja, dll.). Mereka dididik di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohanes, P. Siantar (STFT). Selama masa kuliah ini para frater tinggal di Seminari Tinggi St. Petrus, (STSP)Pematangsiantar.

      Para frater tak hanya melulu kuliah saja, namun mulai belajar mempraktekan ilmu yang diperolehnya. Maka sejak awal mereka mengadakan kerasulan, misalnya: mengajar di sekolah, mendampingi mudika atau stasi dan kelompok kategorial.

3. Tahun Orientasi Pastoral (TOP).  Setelah tamat S-1, calon imam diosesan memasuki masa TOP di keuskup-annya masing-masing. TOP berlangsung selama 1 tahun (bisa lebih). Masa ini merupakan masa untuk menguji kematangan kepribadian, rohani dan motivasi panggilan dengan praktek pastoral di tengah umat.

4. Pendidikan Post S-1. Selesai menjalani TOP, frater kembali ke Siantar untuk kuliah lagi selama 2 tahun di bidang teologi dan pastoral. Selain itu mereka juga berlatih berpas-toral dalam bentuk week-end di paroki dan pendampingan retret/rekoleksi.

5. Persiapan Diakon – Diakon – Imamat.  Setelah menamatkan pendidikan di Pematang-siantar, kini para frater pulang kembali ke keuskupannya untuk memper-siapkan diri menerima tahbisan diakonat. 

    Setelah ditahbiskan sebagai diakon mereka kembali mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan imamat (± 6 bulan setelah diakon). Dengan menerima tahbisan imamat, kini mereka siap diutus dan berkarya bagi keuskupannya!

Nah..., satu lagi pertanyaannya, ini yang paling terakhir dech. Bagaimana caranya untuk menjadi imam diosesan, siapa yang dapat dihubungi?

Syaratnya mudah kok, yang sulit itu menjalaninya, coba simak baik-baik, berikut persyaratannya : [1] Laki-laki dan Katolik tulen; [2] Sehat jasmani dan rohani; [3] Lulus dari seminari menengah/SLTA; [4] Menentukan keuskupan yang akan dipilih dan menga-jukan lamaran kepada uskup yang bersangkutan serta yang pasti lulus tes wawancara dengan beliau! Jika syarat-syarat itu terpenuhi Proficiat Anda akan disambut di Tahun Orientasi Rohani (TOR).

Untuk lebih jelas, silahkan menghubungi Uskup atau keuskupan yang dipilih atau cari info dari para imam dan calon imam diosesan terdekat.  ****


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar